Dalam menjalankan kehidupan berumah tangga tentu perlu komunikasi, baik dalam perencanaan keuangan, pendidikan anak, hingga masalah seks. Banyak pasangan suami istri yang masih jarang membicarakan soal seks yang dialami keduanya. Padahal, komunikasi tentang seks sangat penting untuk mengetahui keluhan atau kebahagiaan saat berhubungan intim.
Masih banyak di kalangan keluarga saat ini yang menganggap komunikasi tentang seks sesame pasangannya adalah hal yang tabu, padahal disitulah kuncinya agar antar-individu memperolah kepuasan yang sama saat berhubungan badan. Dalam komunikasi tersebut, suami istri dapat membahas posisi seks apa yang paling disukai atau dalam suasana seperti apa saat berhubungan intim.
Kurangnya komunikasi dapat menyebabkan salah satu pasangan dapat mengalami orgasme tetapi tidak mendapatkan kepuasan dan menurunkan tingkat ereksi pria. Kasus ini bisa terjadi saat salah satu pasangan hanya terpaksa untuk memuaskan hasrat pasangannya saja. Kondisi seperti ini bisa terjadi misalnya saat suami kelelahan setelah bekerja seharian di kantor dan sang istri memintanya untuk melakukan hubungan badan. Atau kondisi psikis, serta banyak masalah yang melanda pikiran.
Masalah seks seperti itu bisa juga disebabkan oleh penyakit, seperti gangguan prostate. Dan bisa juga karena kombinasi antara masalah psikis atau fisik.
Adapun gejala-gejala gangguan prostate tersebut berupa sering kencing atau kencing tertahan, dan tubuh merasa tidak nyaman dengan gangguan saluran pembuangan tersebut.
Usia perkawinan juga mempengaruhi kondisi seks bila tidak dikomunikasikan dengan baik. Misalnya rasa bosan terhadap pasangan, sebagai contoh, sang istri tidak pernah berdandan atau memakai pakaian sekadarnya saja. Sebagai seorang suami tentu ingin melihat istrinya tampil cantik.
Kebosanan ini biasanya melanda pasangan yang sudah memasuki tahun kelima pernikahan. Sebagai solusinya adalah mengganti suasana bercinta. Misalnya apabila biasanya melakukan hubungan badan dengan keadaan terang atau gelap bisa menggantinya dengan lampu yang redup. Atau melakukan hubungan intim di tempat yang baru, seperti di kamar mandi atau mengadakan liburan ke hotel. Bisa juga melakukan pernikahan perak untuk menjaga keromantisan dan keharmonisan pasangan. Intinya adalah saling terbuka sehingga apabila terdapat masalah bisa diselesaikan dengan cepat.

Saya kerap dituduh tidak patriot apalagi nasionalis oleh teman saya. Pasalnya saya paling ogah menonton liga sepakbola Indonesia, atau ketika tim nasional sedang berlaga melawan tim asing. Sementara saya rela berpusing-ria meneliti patriotisme demi penulisan tesis. Sebenarnya saya frustrasi total dengan sepak bola Indonesia, karenanya saya yang biasanya mengawang-awang menjadi sangat membumi untuk satu hal ini.

Saya bukan ahli olah raga, tetapi tetap saja pertanyaan ‘mengapa’ kerap menjejali kepala ini. Banyak sekali alasan yang mengemuka ketika berbicara tentang atlet atau prestasi Indonesia dalam olah raga. Bahkan untuk permainan yang termasuk merakyat yaitu sepak bola, kita belum juga mampu memancing senyum. Kabar burung mengatakan bahwa Indonesia termasuk negara langka yang dimanjakan dengan tayangan sepakbola dari negeri-negeri sepakbola papan atas. Mulai dari Premier League, La Liga, Bundesliga, Lega Calcio, belum lagi ajang bergengsi seperti Champion League, Piala FA, Euro Cup hingga World Cup. Hampir dipastikan anak-anak SD lebih fasih dan tidak asing dengan profil Samuel Eto’o, Ronaldinho, David Beckham, Luis Saha, dan banyak lagi pemain bintang dunia, ketimbang pemain di timnas kita.

Terlalu jauh jika membandingkan dengan liga-liga di atas, tetapi, bukankah Brazil, Argentina, Nigeria, bukan negara sekaya Inggris, Spanyol atau Italia? Mengapa bisa melahirkan pemain-pemain berkelas dunia, mengapa timnas mereka berada di puncak tangga dunia, setidaknya menjadi kuda hitam di ajang sepakbola internasional? Kemudian kepungan tayangan liga dunia di berbagai televisi, tidakkah memberikan sesuatu? Mengapa dalam highlight liga kita masih juga menampilkan  adegan baku hantam antara wasit, pemain, ofisial bahkan pendukung pun turut serta baku hantam.

Prestasi olah raga nasional kita memang tidak sedang gemilang, setidaknya dulu kita bisa berbangga menyebut sederet nama di cabang bulu tangkis. Susi Susanti, Mia Audina, Ardi B. Wiranata, atau Yayuk Basuki di cabang tenis. Kembali ke cabang sepakbola yang mengutamakan kerjasama tim, serta keterkaitannya dalam isu komunikasi, apakah komunikasi yang terbangun dalam timnas kita tidak efektif? Sehingga seringkali bola disodorkan begitu saja pada pihak lawan? Saya menemukan jurnal menarik tentang efektivitas komunikasi dalam sebuah tim olah raga.

Komunikasi Efektif Tim Olah raga

Dalam beberapa waktu, konsep ini belum mendapat tempat yang pasti dalam psikologi olah raga. Hal ini dikarenakan kurangnya dasar teori dan pengukuran yang tidak berimbang sehingga menjadikan konstruk tersebut dipahami secara salah dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sullivan & Feltz (2003) mengembangkan skala komunikasi efektif dalam tim olah raga dengan melibatkan 681 atlet dalam serangkaian studi.

Sebelumnya mereka mengemukakan bahwa lingkungan olah raga adalah lingkungan yang kaya, unik dan mengandung konteks yang penting untuk mempelajari kondisi alami dan mendasar dari suatu dinamika sosial. Lingkungan ini tidak lepas dari isu semacam kepemimpinan, efikasi kolektif, kohesi tim, juga pencanangan target kelompok.

Menggunakan Independent exploratory factor analysis (EFA) dan subsequent confirmatory factor analysis (CFA), Sullivan & Feltz menemukan empat faktor dalam komunikasi efektif tim olah raga, yakni  distinctiveness, acceptance, positive conflict dan negative conflict;

1. Acceptance is defined as the communication of consideration and appreciation between teammates. Aspek penerimaan ini melebihi faktor yang diunggulkan yaitu Suport. Hal menarik lainnya, faktor yang tereliminasi dalam Support adalah faktor yang merujuk pada perilaku non verbal. Dalam hal ini, penerimaan meruapakan bentuk komunikasi yang bersumber lebih pada bentuk verbal.

2. Distinctiveness is defined as the communication of a shared, but unique identity. Keunikan dalam komunikasi ini salah satunya dapat berupa nama panggilan yang unik antar anggota tim. Nama panggilan tidak melulu pada julukan, tetapi bisa juga nama kecil, yang secara tidak langsung menunjukkan keakraban yang terjalin. Faktor ini juga bisa dipenuhi dalam pertukaran non verbal seperti sikap dan perilaku antar anggota tim.

3. Positive conflict is defined as communication regarding intra-team conflict that expresses constructive and interactive ways of dealing with disruption. Perselisihan sudah jamak terjadi dalam setiap interaksi manusia, namun ekspresi yang konstruktif dan interaktif lah yang pada akhirnya diperlukan, begitu pula dalam sebuah tim olah raga.

4. Negative conflict. Berlawanan dengan konflik positif, konflik negatif lebih mengacu pada konflik intra tim yang mengedepandak emosi, personal dan konfrontasi.

Studi di atas memang tidak melibatkan komponen lain seperti pelatih atau manajemen. Studi tersebut lebih mengungkap komunikasi di antara anggota tim. Pada sisi lain, di antara sekian faktor yang dihasilkan oleh komunitas efektif, kohesivitas menempati rangking utama di atas penampilan tim dan kepuasan. Mengapa kohesivitas? Berikut alasan yang mengikutinya;

1.         Kohesivitas adalah atribut tim yang terbangun dengan begitu baik melebihi faktor penampilan yang ditunjukkan.

2.         Pengukuran kohesivitas lebih bisa diaplikasikan ketimbang penampilan tim yang justru sering menimbulkan keingungan, baik dalam pelatihan dan interaksi tim itu sendiri.

3.         Lebih lanjut, kohesivitas dapat digeneralisir ke dalam interaksi di luar tim olah raga.

Alasan ini yang menjadikan kohesivitas sebagai penyangga utama bagi efektivitas komunikasi efektif. Meski masih dibutuhkan studi lebih lanjut antara kohesivitas dan penampilan tim.

Kohesivitas & Penampilan Tim

Buah dari komunikasi efektif berdasarkan studi Sullivan & Feltz mungkin menimbulkan tanda tanya bagi kita. Meski tidak kaku, namun kohesivitas tetap diunggulkan daripada  penampilan sebuah tim. Melihat penjelasan yang dikemukakan, mungkin gambaran ini bisa melengkapi studi itu. Komunikasi yang efektif antar anggota kelompok mengantarkan ikatan kuat sebuah tim, kohesivitas. Sementara, hal itu tidak berarti penampilan tim akan memuncak.

Mungkin, hal ini dikarenakan penampilan suatu tim tidak bisa dilepaskan dari interaksi antara anggota tim dengan pelatih bahkan jajaran ofisial. Sementara studi tersebut hanya menggali pada tataran anggota tim. Tim yang kohesif adalah tim yang individu-individu di dalamnya memiliki keterikatan kuat. Karenanya ada penerimaan di sana, ada keunikan/ keakraban serta konflik positif dalam dinamika timnya. Inilah hasil yang dapat dipetik dari komunikasi tim yang berjalan efektif. Mereka memiliki pemahaman dan kedekatan personal. Namun, jika berbicara tentang penampilan tim, komunikasi yang terbangun tidak hanya melibatkan antar anggota tim. Mungkin Beckham memiliki komunikasi efektif dengan rekan-rekan di Real Madrid, sehingga ia memiliki kedekatan dengan tim tersebut. Namun hengkangnya pemilik tendangan pisang ini ke Galaxy, USA, lebih pada kekecewaan terhadap kepemimpinan Fabio Capello yang sering menempatkannya di bangku cadangan. Pers juga menduga sebagai kekecewaan tidak dipanggilnya mantan kapten timnas Inggris ini jajaran di timnas Inggris sekarang. Maka, komunikasi yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah komunikasi antara pemain dengan pelatih, pemain dengan manajemen tim.

Bagaimana dengan timnas kita?

Saya curiga, apakah justru tim kita terlalu dekat sehingga wasit pun akan dilawan ketika memberi kartu merah pada rekan satu tim. Bukankah di liga luar sana, keputusan wasit sekontroversial apapun sangat jarang mengakibatkan wasit tersebut terluka karena dikejar-kejar pemain yang marah? Pemain menyerahkan hal itu pada otoritas yang lebih tinggi, federasi. Bukan hal aneh jika keputusan wasit kemudian berubah karena terbukti tidak benar. Silahkan kecurigaan ini diolah dalam bingkai ilmiah, sehingga menjadi sumbangan bagi kemajuan olah raga di negeri ini.

Scale for Effective Communication in Team Sports (SECTS) dari Sullivan & Feltz ini mampu menjadi landasan teoretis dan pengukuran data efektivitas komunikasi tim dalam dunia olah raga. Satu sumbangan berarti dari dunia psikologi untuk dunia olah raga. Semoga bermanfaat.

Dalam kehidupan sosial suatu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya dibutuhkan komunikasi. Komunikasi ini memungkinkan dari satu individu untuk mendapatkan barang atau produk lainnya untuk memenuhi kebutuhan. Konsep inilah yang dikembangkan dan menjadi konsep untuk lahirnya promosi yang dikemas menjadi istilah komunikasi pemasaran.

Perkembangan metode pemasaran sangat mengedepankan terciptanya suatu komunkasi yang baik. Dengan adanya komunikasi yang baik, maka dapat mengambil hati konsumen sehingga akan dengan senang hati membeli produk yang telah ditawarkan ke pasar.  Promosi adalah faktor penting yang sangat perlu untuk diperhatikan dalam proses pemasaran. Dewasa ini dalam melakukan komunikasi tersebut sebagai salah satu bentuknya adalah melalui iklan yang saat ini telah sangat berkembang dengan amat sangat pesat.

Banyak perusahaan mulai dari yang tingkat kecil hingga ke tingkat tinggi, menggunakan konsep komunikasi berupa iklan untuk pemasaran barang atau jasa. Ekonomi saat ini sangat tergantung dan dipengaruhi oleh kebutuhan konsumen. Apapun kebutuhan itu, maka pabrik berusaha untuk mencari cara untuk memenuhi agar dapat memuaskan dan mengakomoditir keinginan konsumen. Begitu juga dengan promosi dengan menggunakan iklan, semakin banyak iklan mengalami perkembangan mengikuti dengan kebutuhan dan pola hidup dari konsumen. Semakin bervariasi dari pola hidup masyarakat maka semakin besar pula variasi dan perkembangan dari produksi iklan yang dihasilkan. Iklan biasanya menjadi salah satu jenis pengeluaran keuangan yang harus dilakukan oleh perusahaan dalam jumlah besar.

Pengeluaran yang besar yang dilakukan oleh perusahaan untuk melakukan promosi via iklan, menjadikan bukti bahwa iklan memiliki peranan yang amat penting dalam mengukur keberhasilan pemasaran dari suatu barang atau jasa. Walaupun tidak selalu berjalan demikian, namun terkadang pengeluaran biaya iklan yang besar tidak selalu mendatangkan keuntungan dan penjualan yang besar. Oleh karena itu sangat perlu untuk mempertimbangan komunikasi pemasaran dengan media iklan agar dapat memenuhi target penjualan dari suatu barang atau jasa.

Pemasaran harus dilakukan dengan landasan strategi yang matang. Pemasaran yang bagus harus memiliki manajemen pemasaran yang baik pula. Beberapa tahun terakhir ini, komunikasi pemasaran yang sering dilakukan oleh iklan kebanyakan dengan menggunakan media elektronik terutama pada media lainnya yang dapat mengumpulkan masa dengan jumlah yang besar. Selai melakukan promosi dengan menggunakan media masa, pemasaran produk juga dapat dilakukan dengan cara melakukan promosi dengan menggunakan promosi penjualan yang dilakukan secara langsung yang dapat mendongkrak untuk mendatangkan keuntungan!

Dan terkadang, untuk perusahaan yang tidak mau repot sering sekali menggunakan perantara berupa biro iklan agar produk yang dipasarkan memiliki iklan promosi yang maksimal. Terkadang biro iklan ini diperankan oleh bagian penting yang diberi nama sebagai konsultan humas. Sebagai catatan, konsultasi humas ini berperan hanya sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pembuatan citra produk terhadap konsumen dan membuat publisitas yang lebih terhadap nilai suatu produk atau jasa.