Saya kerap dituduh tidak patriot apalagi nasionalis oleh teman saya. Pasalnya saya paling ogah menonton liga sepakbola Indonesia, atau ketika tim nasional sedang berlaga melawan tim asing. Sementara saya rela berpusing-ria meneliti patriotisme demi penulisan tesis. Sebenarnya saya frustrasi total dengan sepak bola Indonesia, karenanya saya yang biasanya mengawang-awang menjadi sangat membumi untuk satu hal ini.

Saya bukan ahli olah raga, tetapi tetap saja pertanyaan ‘mengapa’ kerap menjejali kepala ini. Banyak sekali alasan yang mengemuka ketika berbicara tentang atlet atau prestasi Indonesia dalam olah raga. Bahkan untuk permainan yang termasuk merakyat yaitu sepak bola, kita belum juga mampu memancing senyum. Kabar burung mengatakan bahwa Indonesia termasuk negara langka yang dimanjakan dengan tayangan sepakbola dari negeri-negeri sepakbola papan atas. Mulai dari Premier League, La Liga, Bundesliga, Lega Calcio, belum lagi ajang bergengsi seperti Champion League, Piala FA, Euro Cup hingga World Cup. Hampir dipastikan anak-anak SD lebih fasih dan tidak asing dengan profil Samuel Eto’o, Ronaldinho, David Beckham, Luis Saha, dan banyak lagi pemain bintang dunia, ketimbang pemain di timnas kita.

Terlalu jauh jika membandingkan dengan liga-liga di atas, tetapi, bukankah Brazil, Argentina, Nigeria, bukan negara sekaya Inggris, Spanyol atau Italia? Mengapa bisa melahirkan pemain-pemain berkelas dunia, mengapa timnas mereka berada di puncak tangga dunia, setidaknya menjadi kuda hitam di ajang sepakbola internasional? Kemudian kepungan tayangan liga dunia di berbagai televisi, tidakkah memberikan sesuatu? Mengapa dalam highlight liga kita masih juga menampilkan  adegan baku hantam antara wasit, pemain, ofisial bahkan pendukung pun turut serta baku hantam.

Prestasi olah raga nasional kita memang tidak sedang gemilang, setidaknya dulu kita bisa berbangga menyebut sederet nama di cabang bulu tangkis. Susi Susanti, Mia Audina, Ardi B. Wiranata, atau Yayuk Basuki di cabang tenis. Kembali ke cabang sepakbola yang mengutamakan kerjasama tim, serta keterkaitannya dalam isu komunikasi, apakah komunikasi yang terbangun dalam timnas kita tidak efektif? Sehingga seringkali bola disodorkan begitu saja pada pihak lawan? Saya menemukan jurnal menarik tentang efektivitas komunikasi dalam sebuah tim olah raga.

Komunikasi Efektif Tim Olah raga

Dalam beberapa waktu, konsep ini belum mendapat tempat yang pasti dalam psikologi olah raga. Hal ini dikarenakan kurangnya dasar teori dan pengukuran yang tidak berimbang sehingga menjadikan konstruk tersebut dipahami secara salah dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sullivan & Feltz (2003) mengembangkan skala komunikasi efektif dalam tim olah raga dengan melibatkan 681 atlet dalam serangkaian studi.

Sebelumnya mereka mengemukakan bahwa lingkungan olah raga adalah lingkungan yang kaya, unik dan mengandung konteks yang penting untuk mempelajari kondisi alami dan mendasar dari suatu dinamika sosial. Lingkungan ini tidak lepas dari isu semacam kepemimpinan, efikasi kolektif, kohesi tim, juga pencanangan target kelompok.

Menggunakan Independent exploratory factor analysis (EFA) dan subsequent confirmatory factor analysis (CFA), Sullivan & Feltz menemukan empat faktor dalam komunikasi efektif tim olah raga, yakni  distinctiveness, acceptance, positive conflict dan negative conflict;

1. Acceptance is defined as the communication of consideration and appreciation between teammates. Aspek penerimaan ini melebihi faktor yang diunggulkan yaitu Suport. Hal menarik lainnya, faktor yang tereliminasi dalam Support adalah faktor yang merujuk pada perilaku non verbal. Dalam hal ini, penerimaan meruapakan bentuk komunikasi yang bersumber lebih pada bentuk verbal.

2. Distinctiveness is defined as the communication of a shared, but unique identity. Keunikan dalam komunikasi ini salah satunya dapat berupa nama panggilan yang unik antar anggota tim. Nama panggilan tidak melulu pada julukan, tetapi bisa juga nama kecil, yang secara tidak langsung menunjukkan keakraban yang terjalin. Faktor ini juga bisa dipenuhi dalam pertukaran non verbal seperti sikap dan perilaku antar anggota tim.

3. Positive conflict is defined as communication regarding intra-team conflict that expresses constructive and interactive ways of dealing with disruption. Perselisihan sudah jamak terjadi dalam setiap interaksi manusia, namun ekspresi yang konstruktif dan interaktif lah yang pada akhirnya diperlukan, begitu pula dalam sebuah tim olah raga.

4. Negative conflict. Berlawanan dengan konflik positif, konflik negatif lebih mengacu pada konflik intra tim yang mengedepandak emosi, personal dan konfrontasi.

Studi di atas memang tidak melibatkan komponen lain seperti pelatih atau manajemen. Studi tersebut lebih mengungkap komunikasi di antara anggota tim. Pada sisi lain, di antara sekian faktor yang dihasilkan oleh komunitas efektif, kohesivitas menempati rangking utama di atas penampilan tim dan kepuasan. Mengapa kohesivitas? Berikut alasan yang mengikutinya;

1.         Kohesivitas adalah atribut tim yang terbangun dengan begitu baik melebihi faktor penampilan yang ditunjukkan.

2.         Pengukuran kohesivitas lebih bisa diaplikasikan ketimbang penampilan tim yang justru sering menimbulkan keingungan, baik dalam pelatihan dan interaksi tim itu sendiri.

3.         Lebih lanjut, kohesivitas dapat digeneralisir ke dalam interaksi di luar tim olah raga.

Alasan ini yang menjadikan kohesivitas sebagai penyangga utama bagi efektivitas komunikasi efektif. Meski masih dibutuhkan studi lebih lanjut antara kohesivitas dan penampilan tim.

Kohesivitas & Penampilan Tim

Buah dari komunikasi efektif berdasarkan studi Sullivan & Feltz mungkin menimbulkan tanda tanya bagi kita. Meski tidak kaku, namun kohesivitas tetap diunggulkan daripada  penampilan sebuah tim. Melihat penjelasan yang dikemukakan, mungkin gambaran ini bisa melengkapi studi itu. Komunikasi yang efektif antar anggota kelompok mengantarkan ikatan kuat sebuah tim, kohesivitas. Sementara, hal itu tidak berarti penampilan tim akan memuncak.

Mungkin, hal ini dikarenakan penampilan suatu tim tidak bisa dilepaskan dari interaksi antara anggota tim dengan pelatih bahkan jajaran ofisial. Sementara studi tersebut hanya menggali pada tataran anggota tim. Tim yang kohesif adalah tim yang individu-individu di dalamnya memiliki keterikatan kuat. Karenanya ada penerimaan di sana, ada keunikan/ keakraban serta konflik positif dalam dinamika timnya. Inilah hasil yang dapat dipetik dari komunikasi tim yang berjalan efektif. Mereka memiliki pemahaman dan kedekatan personal. Namun, jika berbicara tentang penampilan tim, komunikasi yang terbangun tidak hanya melibatkan antar anggota tim. Mungkin Beckham memiliki komunikasi efektif dengan rekan-rekan di Real Madrid, sehingga ia memiliki kedekatan dengan tim tersebut. Namun hengkangnya pemilik tendangan pisang ini ke Galaxy, USA, lebih pada kekecewaan terhadap kepemimpinan Fabio Capello yang sering menempatkannya di bangku cadangan. Pers juga menduga sebagai kekecewaan tidak dipanggilnya mantan kapten timnas Inggris ini jajaran di timnas Inggris sekarang. Maka, komunikasi yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah komunikasi antara pemain dengan pelatih, pemain dengan manajemen tim.

Bagaimana dengan timnas kita?

Saya curiga, apakah justru tim kita terlalu dekat sehingga wasit pun akan dilawan ketika memberi kartu merah pada rekan satu tim. Bukankah di liga luar sana, keputusan wasit sekontroversial apapun sangat jarang mengakibatkan wasit tersebut terluka karena dikejar-kejar pemain yang marah? Pemain menyerahkan hal itu pada otoritas yang lebih tinggi, federasi. Bukan hal aneh jika keputusan wasit kemudian berubah karena terbukti tidak benar. Silahkan kecurigaan ini diolah dalam bingkai ilmiah, sehingga menjadi sumbangan bagi kemajuan olah raga di negeri ini.

Scale for Effective Communication in Team Sports (SECTS) dari Sullivan & Feltz ini mampu menjadi landasan teoretis dan pengukuran data efektivitas komunikasi tim dalam dunia olah raga. Satu sumbangan berarti dari dunia psikologi untuk dunia olah raga. Semoga bermanfaat.

Comments are closed.